Kamis, 27 Januari 2022

KOPI DAN NGOPI


Imam Najmuddin al-Ghazziy Seorang pakar sejarah mencatatkan dalam kitab al-Kawakib as-Sairah Fi A'yan al-Miah al-A'syirah bahwa : " Orang yang pertama kali menjadikan kebiasaan minum kopi sebagai minuman berkhasiat adalah syekh Abi Bakr Bin Abdullah Al-Aydrus , Beliau membuat racikan kopi dari buah pohon Bun."

Sayyid Abdurrohman bin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad al-Husainy al-Hadramy dari marga Al-Aydrus (1070 H-1113 H) mengatakan dalam kitabnya Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qahwah: " Biji kopi baru ditemukan pada akhir abad VIII H di Yaman oleh penemu kopi Mukha, Imam Abul Hasan Ali asy-Syadziliy bin Umar bin Ibrahim bin Abi Hudaimah Muhammad bin Abdulloh bin al-Faqih Muhammad Disa’in (nasabnya bersambung hingga kepada seorang sahabat bernama Khalid bin Asad bin Abil Ish bin Umayyah al-Akbar bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay).

Beliau adalah pengikut tarekat Syadziliyah, bukan pendirinya (karena pendiri tarekat Syadziliyah, Imam Abu Hasan asy-Syadziliy telah wafat pada tahun 828 H).". Dalam penemuan biji kopi, Imam Abul Hasan Assadzili mendahului Imam Abu Bakr al-Aydrus. Sehingga Imam Abul Hasan adalah penemu biji kopi, sedangkan Imam Abu Bakr Al-Aydrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat.

Beliau menggubah syair mengenai kopi sebagai berikut: "Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Alloh, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap."

Qahwah (kopi) :

- 'qaf' adalah quut (makanan),

- 'ha' adalah hudaa (petunjuk),

- 'wawu' adalah wud (cinta),

- dan 'ha' adalah hiyam (pengusir kantuk).

" Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia."

Syeikh Abu Bakr bin Abdulloh al-Aydrus berkata tentang kopi yang digemarinya:

"Wahai qahwatul bunn (kopi)!

Huruf 'qaf' di awalmu adalah quds (kesucian),

huruf kedua 'ha' adalah hudaa (petunjuk), dan

huruf ketigamu adalah 'wawu'.

Huruf keempatmu adalah 'ha',

berikutnya 'alif' adalah ulfah (keakraban),

'lam' sesudahnya adalah lutfh (belas kasih dari Alloh).

'Ba' adalah basth (kelapangan), dan

'nun' adalah nur (cahaya).

Oh, kopi, kau laksana purnama yang menerangi cakrawala."

Imam Hamzah bin Abdullah bin Muhammad an-Nasyiriy al-Yamaniy asy-Syafi’I, penduduk Zabid (832 H-936 H) adalah seorang sastrawan ulung yang ahli tumbuh_tumbuhan. Dia menggubah seribu bait nadzam mengenai kemukjizatan al-Qur”an, menulis kumpulan fatwa, dan menggubah nadzam lebih dari 80 bait mengenai manfaat kopi, yang antara lain isinya adalah kopi bisa membangkitkan semangat seseorang dan mengantarkannya mencapai kesuksesan. Disebutkan dalam kitab Al-Linas bahwa huruf 'ba' dan 'nun' pada kata bunn (kopi), masing-masing berarti bidayah (permulaan) dan nihayah (akhir/puncak), yakni mengantarkan seseorang dari awal langkah hingga akhir/sampai sukses. Nah, demikian uraian tentang kegemaran dan sanjungan ulama Sufi akan kopi, manfaat, serta falsafah tentangnya.

Hukum asal ngopi adalah halal, namun bisa berubah sesuai tujuannya. apabila ngopi dgn tujuan dapat membantu melakukan ibadah maka hukumnya sunah.jika tujuannya dapat membantu melakukan perkara mubah maka hukumnya mubah/boleh.jka tujuannya unt membantu melakukan perkara makruh maka hukumnya makruh.dan bila dgn tujuan unt membantu melakukan perkara harom maka hukumnya harom. :

مسار الكتاب: » فتاوى الرملي » باب الشرب والتعزير إخفاء/ إظهار التشكيل إظهار/ إخفاء رقم المجلد والصفحة نتيجة سابقة نتيجة تالية " - الجزء الرابع -

" ( باب الشرب والتعزير ) ( سئل ) رحمه الله عن جماعة يشربون القهوة مجتمعين لا على وجه منكر بل يذكرون الله تعالى ويصلون على النبي صلى الله عليه وسلم بسبب أنها تعين على السهر في الخير فهل يحرم شربها لقول بعض إنها مسكرة أم لا وهل يعمل بقول الجم الغفير أنها غير مسكرة ولا مخدرة أم بقول عدد قليل بخلافه وهل يعمل بقول مستعملها بأنها غير مسكرة ولا مخدرة أم بقول غيرهم وهل تقاس على غيرها مما يحرم أو لا ؟ ( فأجاب ) بأنه يحل شربها ؛ لأن الأصل في الأعيان الحل ؛ لأنها مخلوقة لمنافع العباد ولآية ( قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما ) ؛ ولأنها غير مسكرة ولا مخدرة فقد أخبرني جمع ممن أثق بهم" - ص 39 -" من طلبة العلم ممن استعملها أنها لا تسكر ولا تخدر ويقدم إخبار الجم الغفير على إخبار العدد القليل ، وإخبار مستعملها على إخبار غيرهم ولا يصح قياسها على غيرها في التحريم إلا إن وجد فيها علة حكم المقيس عليه من إسكار أو تخدير أو إضرار ، وقد تقدم أن ذلك غير موجود فيها ثم رأيت فتوى لبعض علماء اليمن وهو القاضي أحمد بن عمر المزجد اليمني أنها لا تغير العقل ، وإنما يحصل بها نشاط ، وروحنة وطيب خاطر لا ينشأ عنه ضرر بل ربما كان معونة على زيادة العمل فيتجه أن لها حكمه فإن كان ذلك العمل طاعة فتناولها طاعة أو مباحا فمباح فإن للوسائل حكم المقاصد ا هـ .

 

( الفقه الاسلامي وأدلته ج 6 ص 166-167)

القهوة والدخان : سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة فاجاب للوسائل حكم المقاصد فان قصد للاعانة علي قربة كانت قربة او مباح فمباحة او مكروه فمكروهة او حرام فمحرمة. وأيده بعض الحنابلة علي هذا التفصيل وقال الشيخ مرعي بن يوسف الحنبلي صاحب غاية المنتهي ويجته حل شرب الدخان والقهوة. والأولي تركها لكل ذي مروءة

Manfaat ngopi :

1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya dimulut seseorang maka selama itu pula para malaikat beristighfar (memintakan ampunan) untukmu

2. Barang siapa yang menyimpan tasbih untuk dibuat Berdzikir maka Allah akan mencatatnya sbg orang yang banyak berdzikir, baik ia menggunakan tasbihnya atau tidak

3. Barang siapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau sudah wafat maka pahalanya sama saja dgn ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.

Habib abu bakar bin abdulloh al atthos berkata :

"Sesungguhnya tempat/rumah jika tinggalkan dalam keadaan sepi/kosong/suwung maka para jin akan menempatinya,,,,sedangkan rumah/suatu tempat yang dibiasakan membuat hidangan wedang kopi maka para jin tidak akan menempatinya dan tidak akan bisa mendekat alias mengganggu "

هذه هي الصوفية في حضرموت - للشيخعلي بابكر (ص: 56) وذكر رضي الله عنه عن شيخه الحبيب أبي بكر بن عبد الله العطاس أنه قال : كان السيد أحمد علي بحر القديمي يجتمع مع رسول الله يقظة ، فقال ك يا رسول الله أريد أن أسمع منك حديثاً بلا واسطة . فقال ك صلى الله عليه وسلم أحدثك بثلاثة أحاديث : الأول ، ما زال ريح قهوة البن في فم الإنسان تستغفر له الملائكة ، الثاني ، من اتخذ سبحة ليذكر الله بها كتب من الذاكرين الله كثيراً ، إن ذكر بها أو لم يذكر ، الثالث، من وقف بين يدي ولي لله حي أو ميت فكأنما عبد الله في زوايا الأرض حتى يتقطع إرباً أرباً. قال سيدي رضي الله عنه : وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول : إن المكان الذي يُترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل به القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربون

KEUTAMAAN JUM'AT


Diriwayatkan Al ‘Ala’ dari ayahya yaitu Abdur Rahman dari Abu Hurairah ra. berkata : Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Tiadalah matahari itu terbit dan terbenam pada suatu hari yang lebih utama dari pada hari jum’at. Dan tiadalah dari binatang melainkan ia terkejut pada hari jum’at keculi dua golongan besar yaitu jin dan manunsia. Pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat dua orang malaikat yang menulis manusia yang datang pertama. Maka orang yang datang paling awal seperti berkorban onta, berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, berikutnya seperti orang yang berkorban ayam betina, kemudian seperti orang yang berkorban telur. Dan apabila imam telah berdiri (berkhutbah), maka dilipatlah ganjaran itu. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Al Ghaniyah.

Nabi saw. bersabda :

سيّد الايّام يوم الجمعة

Artinya : “Penghulu hari adalah hari Jum’at”.

Maksudnya hari Jum’at paling utama daripada hari-hari yang lain. Dalam Al Jami’us Shaghir disebutkan : “Penghulu hari-hari di sisi Allah adalah hari jum’at, ia lebih agung dari pada hari kurban dan fithrah. Di dalamnya tergantung lima perkara yaitu : padanya Adam diciptakan, pada hari itu Adam diturunkan dari surga ke bumi, pada hari itu dia meninggal, dan pada hari jum’at terjadinya kiamat. Tiadalah seorang hamba yang memohon kepada Allah pada hari jum’at, melainkan Dia pasti memberi salam kepadanya selama tidak berbuat dosa dan memutus hubungan keluarga serta pada hari jum’atlah hari kiamat akan terjadi. Tiadalah dari malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan batu melainkan ia merasa takut pada hari jum’at hal itu karena merasa takut terjadinya kiamat pada hari itu, yang padanya terdapat penggiringan ke mahsyar dan perhitungan amal. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, Ahmad, dan Al Bukhari dari Sa’ad bin Ubadah.

Nabi saw. bersabda :

من اغتسل يوم الجمعة كفّرت عنه ذنوبه وخطاياه

Artinya : “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, maka leburlah dosa-dosanya dan kesalahannya”.

Maksud hadits itu adalah yang dikehendaki pada sabda Nabi saw. : “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, maka ia dalam keadaan suci sampai Jum’at yang lain”. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dari Qatadah. Suci yang dimaksud adalah suci maknawi.

Nabi saw. bersabda :

انّ يوم الجمعة وليلتها اربعة وعشرون ساعة يعتق الله فى كلّ ساعة منها ستّمائة الف عتيق من النّار

Artinya : “Sesungguhnya pada hari Jum’at dan malamnya ada dua puluh empat jam, dimana setiap jam dari padanya Allah memerdekakan 600.000 (enam ratus ribu) pemerdeka dari neraka”.

Syekh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Telah mewartakan kepada kami Abu Nashr dari ayahnya dengan isnad dari Tsabit Al Banani dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. bahwasanya Beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai 600.000 (enam ratus ribu) pembebasan dari neraka setiap hari dan malam. Malam dan siang hari Jum’at ada dua puluh empat jam, setiap jamnya 600.000 pembebasan dari neraka, mereka seluruhnya dikabulkan oleh neraka”. Al Ghazali berkata : Dalam satu khabar disebutkan, pada hari jum’at Allah mempunyai 600.000 pembebasab dari neraka. Nabi saw. bersabda : “Sesungguhnya neraka Jahim itu menyala setiap hari sebelum tergelincirnya matahari ketika matahari istiwak di tengah langit. Maka janganlah shalat pada saat itu kecuali hari Jum’at, karena pada saat itu shalat seluruhnya, dan sesungguhnya neraka Jahannam tidak menyala waktu itu.

Nabi saw. bersabda :

من ترك الجمعة من غير عذر فليتصدّق بدينار فان لم يجد فبنصف دينار

Artinya : “Siapa meninggakan shalat jama’ah Jum’at tanpa halangan, maka hendaklah bersedekah satu dinar, jika mempunyai maka dengan separoh dinar”.

Dinar adalah uang emas, dan hal itu sebagai kifarat penebus dosa ibadah yang tertinggal. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan Hadits adalah shahih, dimana sanadnya bersambung, adil, dlabith, dan tidak cacat.

Menurut riwayat Al Baihaqi dari Samurah berupa hadits dla’if : “Siapa meninggalkan shalat Jum’at tanpa halangan maka bersedekahla dengan dirham (uang perak), atau separoh dirham, atau satu sha’ atau satu mud”. Dikatakan dla’if karena tidak mencapai tingkat hasan.

Nabi saw. bersabda :

من ترك ثلاث جمع تهاونابها طبع الله على قلبه

Artinya : “Siapa meninggalkan Jum’atan tiga kali karena mengabaikannya, maka hatinya dicap oleh Allah”.

Maksudnya mengabaikan adalah mempermudah meninggalkan tanpa udzur (alasan). Allah mengecap hatinya maksudnya menutup dan terhalang melakukan ibadah. Hadits diriwayatan oleh Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah dari Al Ja’du dan isnadnya hasan.

Nabi saw. bersanda :

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين

Artinya : “Siapa meninggalkan tiga kali shalat jum’at tanpa alasan, maka dia ditetapkan termasuk orang yang munafik”.

Demikian jika orang meninggalkan itu termasuk orang yang diwajibkan melakukan shalat Jum’at. Hadits diriwayatkan oleh Thabrani dari Usamah bin Zaid.

Nabi saw. bersabda :

من مات يوم الجمعة اوليلتها رفع عنه عذاب القبر

Artinya : Siapa mati pada hari Jum’at atau malamnya, maka dihilangkan dari padanya siksa kubur”.

Dalam Ihya’ Al Ghazali berkata : Nabi saw. bersabda : “Siapa yang mati pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Alah menulis baginya mati syahid dan terjaga dari fitnah kubur, dengan syarat ia haris beriman”.

Nabi saw. bersabda :

من قال يوم الجمعة لصاحبه والامام يخطب : انصت, او تكلّم اوعبث او اشار بيده او برأسه فقد لغا ومن لغا فلاجمعة له

Artinya : “Siapa yang mengucapkan kepada temanya pada hari Jum’at padahal imam sedang berkhutbah : Diamlah atau mengobrol atau lancang atau isyarat dengan tangannya atau dengan kepalanya, maka ia benar-benar berdosa (sia-sia), dan siapa yang berdosa maka jum’ahnya tidak sempurna baginya”.

Imam Ibnu Majar Al ‘Asqalani berkata dalam Bulughul Maram dari Ibnu Abbas ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Siapa berbicara pada hari Jum’at yang mana imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai yang membaca kitab-kitab yang tebal. Dan yang berkata : “Diamlah” maka tidak semprnalah Jum’atnya”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan isnad yang tiada kejelekan padanya, yaitu sebagai penjelas hadits Abu Hurairah dala sahih Bukhari dan Muslim berupa hadits marfu’ : “Apabila kamu berkata kepada saudaramu “Diamlah” pada hari Jum’at dimana imam sedang berkhutbah, maka sungguh sia-sia (berdosalah) kamu”.

Abu Bakar Al Hashni berkata dalam kifayatul Akhyar : “Apakah haram berbicara pada waktu khutbah?”. Dalam hal ini ada dua pebdapat. pertama redaksi Imam Syafi’i dalam Qaul Qadim menyatakan haram. Dalam hal ini berkatalah Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad, tentang kebenaran dua riwayat, yaitu sabda Nabi saw. bersabda : “Apabila kamu berkata pada saudaramu di mana imam sedang berkhutbah pada hari Jum’at “Diamlah” sungguh kamu telah sia-sia yaitu berdosa. Kedua Qaul Jadidi : “Bahwa perkataan itu tidak haram, sedangkan dalam memperhatikan adalah sunnah. Sebagaiman diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Utsman datang di mana Umar sedang berkhutbah. Maka berkatalah Umar : “Tidak baik seorang terlambat dari seruan adzan” Lalu Utsman berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, saya tidak menambah ketika saya mendengar panggilan melainkan berwudlu”. Pengertian sia-sia adalah melakukan sesuatu yang tidak sesuai. Sehingga tidak diangap juma’ahan, yaitu tentang kesempurnaan Jum’ah bukan sahnya.

Nabi saw. bersabda :

غسل يوم الجمعة واجب على كلّ محتلم

Artinya : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib atas setiap orang baligh”.

Yang dimaksud “wajib” tersebut bukanlah fardlu. Tetapi masih ditakwil, yaitu wajib dalam sunnah, keperwiraan atau dalam akhlak yang bagus. Jadi wajibnya itu adalah sunah muakkad. Demikian faidah yang dikemukakan oleh Al ‘Azizi mengutip dari sebagian Ulama’. Adapun orang baligh dimaksud adalah orang baligh yang berkehendak mendatangi shalat. Hadits diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Sa’is Al Khudri.

Nabi saw. bersabda :

من ادرك الجمعة فله عند الله اجرمائة شهيد

Artinya : “Siapa yang mendapatkan Jum’ah, maka baginya menurut Allah memperoleh pahala seratus orang mati Syahid”.

Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda :

من ادرك من الجمعة ركعة فليصلّ اليها اخرى ومن فاتته الرّكعتان فليصلّ اربعا او قال الظّهر

Artinya : “Siapa mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at maka shalatlah padanya untuk raka’at yang lain. Dan siapa yang kehabisan waktu untuk shalat dua raka’at maka shalatlah empat rakaat, atau shalat dhuhur”.

(Hadits diriwayatkan oleh Ad Daruquthni)


Sumber: Kitab Tanqihul Qoul Bab Fadhilatul Jum'at

Rabu, 26 Januari 2022

JANGAN PERNAH BERHENTI BERDOA

Pada hakikatnya ayat “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan aku kabulkan”- adalah sebuah janji yang mutlak tidak mungkin diingkari oleh Allah Swt. karena sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (QS. Ra’d: 31).

Sabda Rasulallah Saw : “Tidak ada seorang muslim yang berdoa melainkan akan dikabulkan, ada kalanya disegerakan didunia, ada kalanya disimpankannya untuknya di akhirat. Dan ada kalanya digunakan untuk menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doa yang ia ucapkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan tali persaudaraan”.

Dan beliaupun bersabda : “Nanti pada hari kiamat Allah Swt akan memperlihatkan setiap doa yang dipanjatkan oleh setiap orang sewaktu di dunia yang tidak Allah kabulkan, dimana Allah berfirman: Hambaku, pada suatu hari kamu memanjatkan doa kepadaku, namun Aku tahan doamu itu, maka inilah pahala sebagai pengganti doamu itu”. Orang yang berdoa itu terus menerus diberi pahala sehingga ia berharap kiranya semua doanya itu hanya dibalas di akhirat saja dan tidak diberikan di dunia”.

Dari kedua hadist diatas, kita akan mengerti bahwa tidak semua apa-apa yang kita minta (doa) kepada Allah, tidak selalu baik untuk dikabulkan di dunia. Tetapi boleh jadi akan lebih baik bila diterima di akhirat kelak. Dan pada saat kita berdoa memohon kepada Allah, pada hakikatnya kita berada pada posisi dekat kepada Allah, sehingga walau tak dikabulkan di dunia, malah menjadi pahala penghapus dosa-dosa lalu. Lalu mengapa kita tidak berdoa?

Berdoa adalah ibadah. Bahkan dikatakan sebagai ruhnya ibadah. Orang yang hidupnya tidak dilewati dengan berdoa maka ia adalah makhluk yang sombong. Padahal perilaku sombong adalah termasuk bagian sifat penghuni jahanam.

Sabda Rasulallah Saw :

الدعاء هو العبادة ثم قرأ قوله تعالى وقال ربكم ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Doa itu adalah ibadah. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”

Syekh Ibnu Atthoillah memberikan nasehat didalam kitab Hikamnya:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعِطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأُسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةِ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ.

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman, ”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Abu Dzar al-Ghifari berkata: Doa itu melengkapi amal kebajikan sebagaimana garam melengkapi makanan.

Seseorang yang berdoa hendaknya jangan tergesa-gesa, karena sesungguhnya orang yang berdoa kepada Allah niscaya akan dikabulkan segera atau lambat. Kadang kala permohonannya dikabulkan seketika, kadangkala dikabulkan pada waktu yang agak lama, kadang kala tidak dikabulkan di dunia dan nanti akan diganti dengan pahala di akhirat.

Setiap kita hendaknya selalu memposisikan diri sebagai hamba Allah yang berdoa, menangis di keheningan malam, memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu. Memohon limpahan kemudahan hidup serta diselamatkan kelak dari api neraka.

Manusia yang merasa telah cukup puas dengan apa yang didapatkan didunia sehingga tidak mau berdoa adalah termasuk manusia yang merugi karena kesombongannya di hadapan Allah Swt.

Para nabi dan rasulpun selalu menengadahkan tangan memohon dan berdoa kepada Allah Swt siang dan malam tanpa lelah. Mereka yang telah dijamin kebahagiaan di akhirat kelak masih mau meminta pertolongan Allah. Sedang kita yang belum tahu di mana tempat akhir persinggahan masih melalaikan fasilitas doa yang telah disedia di dunia.

Sebagai suri tauladan kita dapat temukan beberapa kisah para nabi dan rasul yang berdoa untuk mendapatkan hajat dan keinginan mereka. Seperti:

1. Nabi Adam As bapak para manusia memohon ampunan karena telah mendzalimi dirinya memakan buah khuldi di surga. Saat diturunkan didunia, setiap hamparan tanah tak terlepas dari tetesan air mata penyesalan beliau. Doa beliau:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 23)

2. Nabi Ibrahim As bapak para nabi mendoakan tanah suci makkah sebagai tanah yang diberkati oleh Allah, sehingga walau pun terdiri dari tanah yang tandus dan berbatuan, tetapi selalu dilimpahi rahmat dari berbagai buah-buah.

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنْ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Albaqoroh: 126)

3. Nabi Musa as, nabi yang telah menyelamatkan bani Israil dari kukungan Firaun di mesir, pada saat beliau mendapat kesusahan untuk berdakwah karena cacat pada lidahnya, maka ia berdoa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي

"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku (QS. Thoha: 25-28)

4. Nabi Sulaiman As, seorang yang mendapat kenikmatan dunia yang luar biasa, yang memiliki kekuasaan atas jin, manusia, binatang, angin dan air masih mampu mengucapkan doa.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml: 19)

Masih banyak doa-doa yang diucapkan para nabi dalam al-Quran, yang tentunya bila kita mau mentadaburi nya kita akan menjadi malu. Alangkah sombongnya kita, alangkah angkuhnya kita, alangkah malangnya diri kita yang telah menyia-nyiakan waktu dan umur kita dari perbuatan doa kepada Allah sedang para Nabi pun berdoa.

Berdoalah, agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

MAKRUH BERDOA MEMINTA MATI


Hukum mengharapkan mati adalah Makruh, bila tidak karena takut fitnah akan agama, terkecuali bila ia berharap mati syahid, ingin cepat bertemu Allah, ingin mati di tanah suci makah maka ini disunahkan.

و) يكره (تمنى الموت) لضرر فى بدنه او ماله للنهى الصحيح عنه (بلا خوف فتنة فى الدين) و الا فيسن و كذا تمنيه لنحو شهادة او محبة لقاء الله او ببلد شريف كمكة او جار صالح و هذا خرج بقولنا لضر فى بدنه او ماليه  بشرى الكريم ٢/٢٨


باب كراهية تمنى الموت لضر نزل بالانسان وجوازه اذا خاف فتنة فى دينه

Bab menerangkan tentang kemakruhan mengharap kematian karena adanya kerepotan/musibah yang melanda manusia dan bolehnya mengharap kematian jika takut kena fitnah pada agamanya.

وروينا فى صحيحى البخارى ومسلم عن انس رضى الله تعالى عنه قال قال النبى صلى الله عليه وسلم لايتمنين احدكم الموت من ضر اصابه فان كان لا بد فاعلا فليقل اللهم احينى ان كان الحياة خيرا لى وتوفنى ان كان الوفاة خيرا لى قال العلماء من اصحابنا وغيرهم هذا اذا تمنى لضر ونحوه فان تمنى الموت خوفا على دينه لفساد الزمان ونحو ذلك لم يكره

Dan saya bercerita yang diambil dari keterangan kitab shohih bukhori muslim dari sahabat anas Ra berkata,Nabi SAW bersabda,janganlah salah satu dari kalian mengharapkan kematian gara-gara ada kerepotan yang lagi menimpa maka jika harus mengharuskan berbuat maka berucaplah : Ya Alloh berikanlah aku kehidupan jika kehidupan itu lebih baik untukku dan berilah aku kematin jika kematian itu lebih baik untukku para ulama' dari golongan kita syafiiyyah dan yang lain berpendapat,keterangan ini jika mengharap kematian gara-gara tertimpa kerepotan dan selainnya tapi jika menginginkan kematian gara-gara takut terhadap agamanya karena rusaknya zaman atau sejenisnya maka hukumnya tidak makruh. [ AL-ADZKAR HAL 127 ].

أحاديث مختارة من الصحيحين - (ج 1 / ص 72)

وعنه قال : قال رسول الله ( : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت لضرٍّ أصابه ، فإن كان لا بدّ فاعلاً فليقل : اللهم أحيني ما كانت الحياة خيراً لي ، وتوفني إذا كانت الوفاة خيراً لي ) .

معاني الكلمات : لا يتمنينّ أحدكم :الخطاب للصحابة والمراد هم ومن بعدهم من المسلمين . لضرٍّ أصابه : أي ضرر دنيوي كفقر أو مرض.

الفوائد :

1. النهي عن تمني الإنسان الموت بسبب ضرٍّ نزل به .

2. قوله ( لضرٍّ نزل به ) حمله جماعة من السلف على الضرر الدنيوي ، وذلك لأمرين :

أولاً : جاء عند ابن حبان : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت لضرٍّ نزل به في الدنيا ) على أن ( في ) سببية ، أي بسبب أمر من أمر الدنيا .

ثانياً : أن جماعة من السلف تمنّوا الموت خوف الفتنة ، فدلّ على جوازه خشية الفتنة .

قال عمر : ( اللهم كبرت سني ، وضعفت قوتي ، وانتشرت رعيتي ، فاقبضني إليك غير مضيع ولا مفرط ) . رواه مالك

وجاء عن عابس الغفاري أنه قال : ( يا طاعون خذني ، فقال له علم الكندي : لم تقول هذا ؟ ألم يقل رسول الله : لا يتمنين أحدكم الموت ؟ فقال : إني سمعته يقول : بادروا بالموت ستاً : إمرة السفهاء ، وكثرة الشرط ... ) .

3. السبب في النهي عن تمني الموت : لأن زيادة العمر في تقوى الله فيه زيادة في الحسنات ، وقد جاء عند الترمذي عن رسول الله ( أنه قال : ( خير الناس من طال عمره وحسن عمله ) .

وقد جاءت هذه الحكمة في حديث أبي هريرة قال : قال رسول الله ( : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت ، إما محسناً فلعله يزداد ، وإما مسيئاً فلعله يستعتب ) . متفق عليه

4. يجوز تمني الموت في حالات :

الأولى : عند خوف الفتنة .  كما قال تعالى عن مريم : ( يا ليتني متُّ قبل هذا وكنت نسياً منسياً ( .

قال القرطبي : " إنها تمنت الموت لوجهين : أحدهما : أنها خافت أن يُظنّ بها السوء في دينها وتُعيّر فيفتنها ذلك الثاني : لئلا يقع قوم بسببها في البهتان والزور والتهمة إلى الزنا ، وذلك مهلك لهم .

وقال ( : ( وإذا أردت بقوم فتنة فاقبضني إليك غير مفتون ) . رواه أحمد

الثانية : تمني الشهادة . كما قال ( : ( من سأل الشهادة بصدق بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه ) . رواه مسلم فإن قال قائل : ما الجواب عن قول يوسف : ( ربّ توفني مسلماً وألحقني بالصالحين ( ؟

قيل : لم يتمنّ الموت ، وإنما تكاملت عليه النعم ، وجُمع له الشمل ، واشتاق إلى لقاء ربه . وقيل : أن يوسف لم يتمنى الموت ، وإنما تنمى الموافاة على الإسلام ، وهذا القول رجحه القرطبي ، وهو الصحيح . 

5. على المسلم أن يغتنم حياته الدنيا ليتزود منها بالأعمال الصالحة . 

6. السنة لمن أراد الموت أن يقول الدعاء الذي أرشد إليه النبي ( : ( اللهم أحيني ما كانت ... ) ففيها التسليم التام لله تعالى ، الذي يعلم حقائق الأمور وعواقبها . 

7. حسن هذه الشريعة العظيمة ، حيث أنها لم تنهى عن شيء إلا وقد جاءت ببدله . 

8. ينبغي الالتجاء إلى الله ودعاؤه في كل الأمور ، فهو الذي يعلم عاقبتها

Sejarah Rotibul Haddad


Ratib Al-Haddad ini diambil dari nama penyusunnya, Yakni Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Dari doa-doa dan zikir-zikir karangan dan susunan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun atas permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut untuk mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca di kampung ‘Amir sendiri, yakni di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan dibaca sebelum solat Isya’. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan dari pengaruh sesat tersebut.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini dipetik dari Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Ini berdasarkan sarana Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya.

Keutamaan Rotib Hadad (1)

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya: Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat. Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi ketika mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.” Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan. Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami. Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu. Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.” Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri. Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.

Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.

Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”

Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya', kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya', semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.

Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”

Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.” Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”

( Az-Zukhruf: 36 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)

(1) Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar - karangan Syed Ahmad Semait, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

ADAB BERDOA


آداب الدعاء وهي عشرة

الأول أن يترصد لدعائه الأوقات الشريفة كيوم عرفة من السنة ورمضان من الأشهر ويوم الجمعة من الأسبوع ووقت السحر من ساعات الليل قال تعالى وبالأسحار هم يستغفرون وقال صلى الله عليه و سلم ينزل الله تعالى كل... ليلة إلى سماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز و جل من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له // حديث ينزل الله كل ليلة إلى سماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة // وقيل إن يعقوب صلى الله عليه و سلم إنما قال سوف أستغفر لكم ربي ليدعو في وقت السحر فقيل إنه قام في وقت السحر يدعو وأولاده يؤمنون خلفه فأوحى الله عز و جل إني قد غفرت لهم وجعلتهم أنبياء

الثاني أن يغتنم الأحوال الشريفة قال أبو هريرة رضي الله عنه إن أبواب السماء تفتح عند زحف الصفوف في سبيل الله تعالى وعند نزول الغيث وعند إقامة الصلوات المكتوبة فاغتنموا الدعاء فيها وقال مجاهد إن الصلاة جعلت في خير الساعات فعليكم بالدعاء خلف الصلوات

وقال صلى الله عليه و سلم الدعاء بين الأذان والإقامة لا يرد // حديث الدعاء بين الأذان والإقامة لايرد أخرجه أبو داود والنسائي في اليوم والليلة والترمذي وحسنه من حديث أنس وضعفه ابن عدي وابن القطان ورواه في اليوم والليلة بإسناد آخر جيد وابن حبان والحاكم وصححه // وقال صلى الله عليه و سلم أيضا الصائم لا ترد دعوته // حديث الصائم لا ترد دعوته أخرجه الترمذي وقال حسن وابن ماجه من حديث أبي هريرة بزيادة فيه // وبالحقيقة يرجع شرف الأوقات إلى شرف الحالات أيضا إذ وقت السحر وقت صفاء القلب وإخلاصه وفراغه من المشوشات ويوم عرفة ويوم الجمعة وقت اجتماع الهمم وتعاون القلوب على استدرار رحمة الله عز و جل فهذا أحد أسباب شرف الأوقات سوى ما فيها من أسرار لا يطلع البشر عليها

وحالة السجود أيضا أجدر بالإجابة قال أبو هريرة رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه و سلم أقرب ما يكون العبد من ربه عز و جل وهو ساجد فأكثروا فيه من الدعاء // حديث أبي هريرة أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا من الدعاء رواه مسلم // وروى ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال إني نهيت أن أقرأ القرآن راكعا أو ساجدا فأما الركوع فعظموا فيه الرب تعالى وأما السجود فاجتهدوا فيه بالدعاء فإنه قمن أن يستجاب لكم // حديث ابن عباس إنني نهيت أن أقرأ القرآن راكعا أو ساجدا الحديث أخرجه مسلم أيضا //

الثالث أن يدعو مستقبل القبلة ويرفع يديه بحيث يرى بياض إبطيه وروى جابر بن عبد الله أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أتى الموقف بعرفة واستقبل القبلة ولم يزل يدعو حتى غربت الشمس // حديث جابر أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أتي الموقف بعرفة واستقبل القبلة ولم يزل يدعو حتى غربت الشمس الحديث أخرجه مسلم دون قوله يدعو فقال مكانها واقفا والنسائي من حديث أسامة بن زيد كنت ردفه بعرفات فرفع يديه يدعو ورجاله ثقات //

وقال سلمان قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن ربكم حيي كريم يستحي من عبيده إذا رفعوا أيديهم إليه أن يردها صفرا // حديث سلمان إن ربكم حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه أن يردهما صفرا أخرجه أبو داود والترمذي وحسنه وابن ماجه والحاكم وقال إسناده صحيح على شرطهما //

وروى أنس أنه صلى الله عليه و سلم كان يرفع يديه حتى يرى بياض إبطيه في الدعاء ولا يشير بأصبعيه // حديث أنس كان يرفع يديه حتى يرى بياض إبطيه في الدعاء ولا يشير بأصبعه أخرجه مسلم دون قوله ولا يشير بأصبعه والحديث متفق عليه لكن مقيد بالاستسقاء //

وروى أبو هريرة رضي الله عنه أنه صلى الله عليه و سلم مر على إنسان يدعو ويشير بإصبعيه السبابتين فقال صلى الله عليه و سلم أحد أحد // حديث أبي هريرة مر على إنسان يدعو بأصبعيه السبابتين فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد أحد أخرجه النسائي وقال حسن وابن ماجه والحاكم وقال صحيح الإسناد // أي اقتصر على الواحدة

وقال أبو الدرداء رضي الله عنه ارفعوا هذه الأيدي قبل أن تغل بالأغلال ثم ينبغي أن يمسح بهما وجهه في آخر الدعاء قال عمر رضي الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه // حديث عمر كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه أخرجه الترمذي وقال غريب والحاكم في المستدرك وسكت عليه وهو ضعيف //

وقال ابن عباس كان صلى الله عليه و سلم إذا دعا ضم كفيه وجعل بطونهما مما يلي وجهه // حديث ابن عباس كان صلى الله عليه و سلم إذا دعا ضم كفيه وجعل بطونهما مما يلي وجهه أخرجه الطبراني في الكبير بسند ضعيف //

فهذه هيئات اليد ولا يرفع بصره إلى السماء قال صلى الله عليه و سلم لينتهين أقوام عن رفع أبصارهم إلى السماء عند الدعاء أو لتخطفن أبصارهم // حديث لينتهين أقوام عن رفع أبصارهم إلى السماء عند الدعاء أو لتخطفن أبصارهم أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة وقال عند الدعاء في الصلاة //

الرابع خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روى أن أبا موسى الأشعري قال قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه و سلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم // حديث أبي موسى الأشعري يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب متفق عليه مع اختلاف واللفظ الذي ذكره المصنف لأبي داود //

وقالت عائشة رضي الله عنه في قوله عز و جل ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها // حديث عائشة في قوله تعالى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها أي بدعائك متفق عليه // أي بدعائك وقد أثنى الله عز و جل على نبيه زكرياء عليه السلام حيث قال إذ نادى ربه نداء خفيا وقال عز و جل ادعوا ربكم تضرعا وخفية

الخامس أن لا يتكلف السجع في الدعاء فإن حال الداعي ينبغي أن يكون حال متضرع والتكلف لا يناسبه قال صلى الله عليه و سلم سيكون قوم يعتدون في الدعاء // حديث سيكون قوم يعتدون في الدعاء وفي رواية والطهور أخرجه أبو داود وابن ماجه وابن حبان والحاكم من حديث عبد الله بن مغفل // وقد قال عز و جل ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه

لا يحب المعتدين قيل معناه التكلف للأسجاع والأولى أن لا يجاوز الدعوات المأثورة فإنه قد يعتدى في دعائه فيسأل ما لا تقتضيه مصلحته فما كل أحد يحسن الدعاء ولذلك روي عن معاذ رضي الله عنه إن العلماء يحتاج إليهم في الجنة إذ يقال لأهل الجنة تمنوا فلا يدرون كيف يتمنون حتى يتعلموا من العلماء وقد قال صلى الله عليه و سلم إياكم والسجع في الدعاء حسب أحدكم أن يقول اللهم إني أسألك الجنة وما قرب إليها من قول وعمل وأعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول وعمل // حديث إياكم والسجع في الدعاء بحسب أحدكم أن يقول اللهم إني أسألك الجنة وما قرب إليها من قول وعمل وأعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول وعمل غريب بهذا السياق وللبخاري عن ابن عباس وانظر السجع من الدعاء فاجتنبه فإني عهدت أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يفعلون إلا ذلك وابن ماجه والحاكم واللفظ له وقال صحيح الإسناد من حديث عائشة عليك بالكوامل وفيه وأسألك الجنة إلى آخره // وفي الخبر سيأتي قوم يعتدون في الدعاء والطهور ومر بعض السلف بقاص يدعو بسجع فقال له أعلى الله تبالغ أشهد لقد رأيت حبيبا العجمي يدعو وما يزيد على قوله اللهم اجعلنا جيدين اللهم لا تفضحنا يوم القيامة اللهم وفقنا للخير والناس يدعون من كل ناحية وراءه وكان يعرف بركة دعائه

وقال بعضهم ادع بلسان الذلة والافتقار لا بلسان الفصاحة والانطلاق

ويقال إن العلماء الأبدال لا يزيدون في الدعاء على سبع كلمات فما دونها ويشهد له آخر سورة البقرة فإن الله تعالى لم يخبر في موضع من أدعية عبادة أكثر من ذلك

واعلم أن المراد بالسجع هو المتكلف من الكلام فإن ذلك لا يلائم الضراعة والذلة وإلا ففي الأدعية المأثورة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم كلمات متوازنة لكنها غير متكلفة كقوله صلى الله عليه و سلم أسألك الأمن من يوم الوعيد والجنة يوم الخلود مع المقربين الشهود والركع السجود الموفين بالعهود إنك رحيم ودود وإنك تفعل ما تريد // حديث أسألك الأمن يوم الوعيد والجنة يوم الخلود مع المقربين الشهود والركع السجود الموفين بالعهود إنك رحيم ودود وإنك تفعل ما تريد أخرجه الترمذي من حديث ابن عباس سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ليلة حين فرغ من صلاته فذكر حديثا طويلا مع جملته هذا وقال حديث غريب انتهى وفيه محمد بن عبد الرحمن بن أبي ليلى سيىء الحفظ // وأمثال ذلك فليقتصر على المأثور من الدعوات أو ليلتمس بلسان التضرع والخشوع من غير سجع وتكلف فالتضرع هو المحبوب عند الله عز و جل

السادس التضرع والخشوع والرغبة والرهبة قال الله تعالى إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وقال عز و جل ادعوا ربكم تضرعا وخفية وقال صلى الله عليه و سلم إذا أحب الله عبدا ابتلاه حتى يسمع تضرعه // حديث إذا أحب الله عبدا ابتلاه حتى يسمع تضرعه أخرجه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أنس إذا أحب الله عبدا صب عليه البلاء صبا الحديث وفيه دعه فإني أحب أن أسمع صوته وللطبراني من حديث أبي أمامة إن الله يقول للملائكة انطلقوا إلى عبدي فصبوا عليه البلاء الحديث وفيه فإني أحب أن أسمع صوته وسندهما ضعيف //

السابع أن يجزم الدعاء ويوقن بالإجابة ويصدق رجاءه فيه

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مكره له // حديث لا يقل أحدكم اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مكره له متفق عليه من حديث أبي هريرة // وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا دعا أحدكم فليعظم الرغبة فإن الله لا يتعاظمه شيء // حديث إذا دعا أحدكم فليعظم الرغبة فإن الله لا يتعاظمه شيء أخرجه ابن حبان من حديث أبي هريرة // وقال صلى الله عليه و سلم ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله عز و جل لا يستجيب دعاء من قلب غافل // حديث ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل أخرجه الترمذي من حديث أبي هريرة وقال غريب والحاكم وقال مستقيم الإسناد وتفرد به صالح المري وهو أحد زهاد البصرة قلت لكنه ضعيف في الحديث // وقال سفيان بن عيينة لا يمنعن أحدكم من الدعاء ما يعلم من نفسه فإن الله عز و جل أجاب دعاء شر الخلق إبليس لعنه الله إذ قال رب فانظرني إلى يوم يبعثون قال إنك من كان صلى الله عليه و سلم إذا دعا دعا ثلاثا وإذا سأل سأل ثلاثا // حديث ابن مسعود كان صلى الله عليه و سلم إذا دعا دعا ثلاثا وإذا سأل سأل ثلاثا رواه مسلم وأصله متفق عليه // وينبغي أن لا يستبطىء الإجابة لقوله صلى الله عليه و سلم يستجاب لأحدكم ما لم يعجل فيقول قد دعوت فلم يستجب لي فإذا دعوت فاسأل الله كثيرا فإنك تدعو كريما // حديث يستجاب لأحدكم ما لم يعجل فيقول دعوت فلم يستجب لي متفق عليه من حديث أبي هريرة // وقال بعضهم إني أسأل الله عز و جل منذ عشرين سنة حاجة وما أجابني وأنا أرجو الإجابة سألت الله تعالى أن يوفقني لترك ما لا يعنيني

وقال صلى الله عليه و سلم إذا سأل أحدكم ربه مسألة فتعرف الإجابة فليقل الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات ومن أبطأ عنه من ذلك فليقل الحمد لله على كل حال // حديث إذا سأل أحدكم مسألة فتعرف الإجابة فليقل الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات ومن أبطأ عنه من ذلك شيء فليقل الحمد لله على كل حال أخرجه البيهقي في الدعوات من حديث أبي هريرة وللحاكم نحوه من حديث عائشة مختصرا بإسناد ضعيف //

التاسع أن يفتتح الدعاء بذكر الله عز و جل فلا يبدأ بالسؤال قال سلمة بن الأكوع ما سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يستفتح الدعاء إلا استفتحه بقول سبحان ربي العلي الأعلى الوهاب // حديث سلمة بن الأكوع ما سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يستفتح الدعاء إلا استفتحه وقال سبحان ربي العلي الأعلى الوهاب أخرجه أحمد والحاكم وقال صحيح الإسناد قلت فيه عمر بن راشد اليماني ضعفه الجمهور // قال أبو سليمان الداراني رحمه الله من أراد أن يسأل الله حاجة فليبدأ بالصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم ثم يسأله حاجته ثم يختم بالصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم فإن الله عز و جل يقبل الصلاتين وهو أكرم من أن يدع ما بينهما وروى في الخبر عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال إذا سألتم الله عز و جل حاجة فابتدئوا بالصلاة علي فإن الله تعالى أكرم من أن يسئل حاجتين فيقضي إحداهما ويرد الأخرى // حديث إذا سألتم الله حاجة فابدءوا بالصلاة علي فإن الله تعالى أكرم من أن يسأل حاجتين فيعطي إحداهما ويرد الأخرى لم أجده مرفوعا وإنما هو موقوف على أبي الدرداء // رواه أبو طالب المكي

العاشر وهو الأدب الباطن وهو الأصل في الإجابة التوبة ورد المظالم والإقبال على الله عز و جل بكنه الهمة فذلك هو السبب القريب في الإجابة فيروى عن كعب الأحبار أنه قال أصاب الناس قحط شديد على عهد موسى رسول الله صلى الله عليه و سلم فخرج موسى ببني إسرائيل يستسقى بهم فلم يسقوا حتى خرج ثلاث مرات ولم يسقوا فأوحى الله عز و جل إلى موسى عليه السلام إني لا أستجيب لك ولا لمن معك وفيكم نمام فقال موسى يا رب ومن هو حتى نخرجه من بيننا فأوحى الله عز و جل إليه يا موسى أنهاكم عن النميمة وأكون نماما فقال موسى لبني إسرائيل توبوا إلى ربكم بأجمعكم عن النميمة فتابوا فأرسل الله تعالى عليهم الغيث

وقال سعيد بن جبير قحط الناس في زمن ملك من ملوك بني إسرائيل فاستسقوا فقال الملك لبني إسرائيل ليرسلن الله تعالى علينا السماء أو لنؤذينه قيل له وكيف تقدر أن تؤذيه وهو في السماء فقال أقتل أولياءه وأهل طاعته فيكون ذلك أذى له فأرسل الله تعالى عليهم السماء

Imam Abu hamid al-Ghozali berkata dalam Kitab Ihyaa’

Adab berdoa ada sepuluh ringkasannya kurang lebihnya begini :

• Hendaklah kita mengamati dan memilih waktu-waktu yang baik dan mulia untuk berdoa. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah Imam al-Ghazali dalam Ihya’nya mencontohkan bahwa waktu–waktu yang baik itu adalah seperti hari Arafah, bulan Ramadhan hari Jum’at, dan diwaktu sahur.

• Hendaklah kita mempergunakan kesempatan berdoa pada keadaan–keadaan yang mulia. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah pula Imam al-Ghazali mencontohkan dalam kitabnya tersebut bahwa keadaan yang baik adalah seperti ketika berada dalam barisan (shaf) peperangan (jihad fisabilillah), ketika turunnya hujan, antara azan dan iqamat, ketika hari kala kita sedang berpuasa dan ketika berada pada sujud sembahyang.

• Hendaklah kita berdoa dengan menghadap qiblat (Ka’bah), baik berdoa setelah shalat atau pada waktu-waktu lainnya, begitu yang dilakukan Rasulullah kala Beliau berdoa. Adapun jika berdoa setelah shalat fardhu maka menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Fat-hul Mu’in, bahwa menghadap qiblat hanya disunatkan bagi selain imam. Adapun bagi imam maka sebaiknya ia berdiri pada tempat ia sembahyang dan menghadap jama’ah jika dari para jama’ah itu tidak terdapat orang perempuan, atau sebaiknya bagi imam berdoa dengan mengarahkan pihak kanannya kearah makmum sedangkan qiblat berada pada pihak kirinya.

• Hendaklah kita berdoa dengan mengangkatkan dua tangan kelangit (keatas). Menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Irsyaadil ‘Ibaad bahwa hukum mengangkat dua tangan itu adalah disunatkan bagi selain orang yang sedang sembahyang dan yang sedang berkhutbah, adapun bagi keduanya maka tidak disunatkan mengangkat dua tangan. Dan tangan yang diangkat itu adalah tangan yang dalam keadaan suci dan diangkat sampai sejajar tingginya dengan dua bahu. Adapun tangan yang bernajis menurut Syeikh Sayed Bakri bin Sayed Muhammad Syatha dalam kitab beliau I’anatuth Thaalibin maka hukum mengangkatnya adalah makruh walaupun tangan itu tertutup. Dan jika adalah hal yang didoakan itu merupakan hal yang sangat rumit dan mendesak maka menurut beliau berdasarkan al-Kurdiy bahwa tangan itu diangkat bukan sejajar dengan bahu tapi lebih keatas lagi, sekira-kira tampaklah putih–putih ketiaknya. Menurut Syeikh Syihabuddin Qulyubiy dalam kitab beliau Hasyiyah al-Mahalliy bahwa telapak tangan itu dirapatkan dan sebaiknya dalam keadaan terbuka, artinya telapak tangan tidak ditutup dengan penutup apapun jua. Hal itu kita lakukan sebagai isyarah kita sedang menadah pemberian dan anugerah dari Tuhan, dan dalam keadaan seperti itu maka pandangan mata ditujukan kelangit (keatas), sebagai isyarah kita memperhatikan rahmat Allah yang sedang diturunkan, dan setelah selesai berdoa maka tangan itu disapukan kewajah.

• Hendaklah berdoa dengan suara yang lunak dan sayup. Yang dimaksudkan disini adalah jangan meninggikan suara sampai terdengar oleh orang lain dan jangan pula mengecilkannya sampai tak terdengar pada diri sendiri. Guru besar kita pembangun mazhab Syafi’iy yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi’ie yang dikenal dengan Imam Syafi’iy dalam kitab beliau yang terkenal yaitu al-Um bahwa beliau berkata, “Saya memilih (berpendapat) bahwa disunatkan bagi imam dan makmum apabila telah selesai dari shalat agar mereka berzikir dan berdoa dan hendaknya mereka melakukan itu dengan merendahkan suara, kecuali kalau ia seorang imam yang bermaksud ingin mengajarkan zikir dan doa kepada para jama’ah maka baguslah jika ia membesarkan suaranya sebatas para jama’ah itu belum bisa, adapun jika mereka telah bisa maka suara imam kala berzikir dan berdoa itu harus dikecilkan kembali. Pendapat maha guru kita itu telah diikuti oleh semua murid beliau dan semua penganut mazhab Syafi’ie termasuk Syeikh Zainuddin al-Malibariy dalam kitabnya Fathul Mu’in, dan beliau menambahkan bahwa boleh juga bagi imam untuk membesarkan suara dalam zikir dan doanya jika ia bermaksud agar makmum atau para jama’ah membaca amien untuk doanya tersebut. Dan beliau menyebutkan dalam kitab tersebut, menurut guru beliau Syihabuddin Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy bahwa terlalu membesarkan suara ketika berzikir dan berdoa didalam masjid, sekira-kira dapat mengganggu kekhusyukkan orang sembahyang maka membesarkan suara adalah sepantasnya diharamkan.

• Hendaklah kita dalam berdoa tidak membebani diri dengan bersajak. Kecuali pada doa-doa yang pernah diajari oleh Rasulullah, karena do’a yang paling bagus yang kita bacakan adalah do’a–do’a yang diajarkan oleh Rasulullah maka walaupun terdapat sajak didalamnya tapi tidak termasuk membebani diri. Yang dimaksud dengan bersajak ialah membebani diri dengan mencari persamaan kata atau huruf pada akhir kalimat lalu tidak memperhatikan maksud dari doa yang sedang dibaca itu, karena yang dituntut kala berdoa bukan persamaan kata tapi merendah diri dengan hati yang khusyuk dan lidah yang hina.

• Hendaklah keadaan kita dalam berdoa dengan merendah diri dan dengan khusyuk serta bersikap bahwa kita harap dan takut kepada Allah. Menurut Syeikh Jalaluddin al-Mahalliy dalam kitabnya Tafsir al-Jalalaini bahwa yang dimaksud dengan harap adalah bahwa kita dalam berdoa dengan satu kepastian bahwa kita berada dalam rahmat Allah SWT. dan kita pula harus cemas dan takut dari azab-Nya.

• Hendaklah kita mengokohkan doa dengan satu keyakinan bahwa doa itu pasti diperkenankan sebagaimana yang Allah janjikan. Dan hendaklah kita berbaik sangka pada Tuhan dengan membenarkan harapan bahwa doa pasti diterima-Nya. Disebutkan dalam berbagai kitab bahwa “Tuhan akan bersikap terhadap kita hamba menurut sangkaan kita terhadap-Nya, kalau kita menyangka bahwa Tuhan akan berbuat baik pada kita maka kebaikanlah yang diberikan Tuhan bagi kita, dan sebaliknya jika kita beranggapan bahwa yang akan diperbuat Tuhan terhadap kita adalah keburukan maka hal yang terburuklah yang bakal menghimpit kita nantinya. Oleh karena itu maka hendaklah kita dalam berdoa harus dengan satu keyakinan dan rasa percaya bahwa pintu keampunan Allah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dosa–dosa kita. Dan pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dan mau berdoa pada-Nya. Dan rahmat yang luas itu akan diberikan bagi semua yang memerlukannya dan mau meminta kepada-Nya. Dari satu sisi bahwa kita dihadapan Tuhan harus mengakui kesalahan dan dosa yang kita lakukan dalam sebuah pengakuan yang melambangkan penyesalan bukan kepuasan dan bangga, dan dari sisi lain bahwa kita juga harus mengakui bahwa keampunan Allah SWT. jauh lebih besar dari sebesar apapun dosa-dosa kita.

• Hendaklah kita berdoa dengan penuh kesungguhan dan mengulang–ulang doa itu sampai tiga kali.

• Hendaklah kita memulai doa dengan menyebut nama Allah dan memuji kehebatan dan kebesaran-Nya apakah dalam bentuk Basmalah, Hamdalah, atau Zikir–Zikir lain yang sifatnya merupakan bentuk sanjungan kita kepada Allah SWT. setelah memuji Allah SWT. maka kita membaca shalawat kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengandung pengertian bahwa janganlah kita dalam berdoa menuju lansung pada permohonan dan permintaan, tapi berikan dulu kata-kata sanjungan dan pujian akan kebesaran Tuhan dan kemurahan-Nya. Tidakkah kita memperhatikan pengajaran Allah SWT. pada surat al-Fatihah, bahwa dalam surat tersebut sesungguhnya Allah SWT. mengajarkan kita akan cara berdoa kepada-Nya dengan firman-Nya. “Berikan Kami Jalan Yang Lurus. Yaitu Jalan Yang Telah Engkau Berikan Bagi Mereka, Yang Tidak Adalah Mereka Itu Dimurkakan Dan Tidak Pula Dalam Kesesatan.

Doa tersebut tertulis setelah kata-kata pujian dan sanjungan terhadap dirinya pada ayat sebelumnya dengan firman-Nya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Jenis Puji-Pujian Itu Hanyalah Hak Istimewa Bagi Allah Pemilik Alam Jagat Raya. Yang Pengasih Dan Penyayang. Yang Merupakan Raja Pada Hari Kiamat. Hanya Engkau Yang Kami Sembah Dan Hanya Kepada Engkau Pula Kami Mohon Pertolongan”.

• Hendaklah kita berdoa dengan memelihara adab bathiniyah. Adab inilah yang merupakan pangkal dan modal agar doa kita diterima oleh Allah SWT”.  [ Ihyaa’ ‘Uluumiddiin I/304 ]. Wallaahu A'lamu bis Showaab.

PERBEDAAN SHOLAT PRIA DAN WANITA


PERBEDAAN SHALAT PRIA DAN WANITA

( فصل ) والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء

فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه ويقل بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود ويجهر في موضع الجهر وإذا نابه شيء في الصلاة سبح وعورة الرجل ما بين سرته وركبته

والمرأة تضم بعضها إلى بعض وتخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها

[ PASAL ] Perbedaan wanita dan pria dalam shalat  :

PRIA

1.Mengangkat siku dan merenggang, jauh dari lambungnya, perut diangkat, juga merenggang jauh dari paha sewaktu ruku’ ketika sujud, serta bersuara keras pada tempatnya (pada shalat jahr).

2.Jika terjadi sesuatu kekeliruan imam dalam shalat, maka bertashbih dengan mengucapkan "subhanalloh" (dengan maksud dzikir, atau dengan maksud pemberitahuan (kepada Imam). Maka hal ini tidak membatalkan shalat, berbeda jika memang bermaksud memberitahu saja, maka batal shalatnya).

3.Aurat pria (batasannya dalam shalat) mulai dari anggota tubuh diantara pusar sampai lutut, tapi bukan berarti pusar dan lutut itu aurat, dan tidak pula anggota tubuh di luar batasan tersebut.

WANITA

Wanita berbeda dengan pria dalam 5 perkara, yaitu :

1.Bahwasanya wanita itu menghimpitkan setengah anggota tubuh pada anggota lain, baik ketika ruku’ maupun sujud, yakni perut berhimpit dengan pahanya.

2.Suaranya dipelankan, sewaktu melakukan shalat di sebelahnya banyak pria lain (bukan suami/bukan mahramnya), berbeda jika shalat munfarid yang jauh dari mereka (kaum pria), maka boleh jahr/bersuara keras.

3.Sewaktu shalat berjamaah, terjadi sesuatu kekeliauran pada Imam, maka wanita mengingatkannya dengan bertepuk tangan, yakni perut telapak tangan kanan (bagian dalam telapak tangan kanan) memukul punggung (bagian luar telapak tangan kiri).

4.Jika melenceng dari ketentuan tersebut, maka batal shalatnya, misalnya bertepuk tangan dengan perut kedua telapak tangannya dengan maksud main-main (bergurau) walaupun pelan, padahal ia telah mengetahui bahwa tindakan tersebut terlarang, maka batal shalatnya. Dan ketentuan pada wanita berlaku pula pada banci ( الخنثى ).

5.Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat yang wajib ditutupi selain wajah dan telapak tangan, apabila mengerjakan shalat, bahkan seluruh tubuhnya adalah aurat di luar shalat (kepada selain mahramnya). [ Matan Abi Sujaa’ I/64, al-Iqna I/46, Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khotib IV/413, Kifaayah al-Akhyaar I/117 ].

Perbedaan diatas mengacu pada perbedaan secara fisik antara pria dan wanita sedang mengenai rukun, syarat dan yang membatalkan shalat antara keduanya tidak terdapat perbedaan berdasarkan beberapa hadits nabi diantaranya : “Sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori, Muslim, dan Ahmad). Ibrahim An-Nakha’i menyatakan : “Dalam sholat, wanita melakukannya sama dengan yang dilakukan oleh laki-laki” (HR. Ibnu Syaibah 1/75/2, dengan sanad shahih). Wallaahu A'lamu Bisshowaab.

Bolehkah Memberikan Zakat Fitrah kepada Non-Muslim?

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu. Peranannya tidak hanya berkaitan deng...